Thursday, February 22, 2018
   
TEXT_SIZE

Diploma Suplemen Sebagai Strategi Pemenangan Kompetisi

Salatiga – Ditengah ketatnya kompetisi antar perguruan tinggi (PT) maupun lulusan yang dihasilkan, PTS di Jateng perlu  mengupayakan  keunggulan  sebagai ciri yang melekat dimasing-masing lembaganya, yakni   dalam bentuk Diploma Suplemen.

             Sebagai upaya pemahaman mengenai Diploma Suplemen tersebut, Koordinator Kopertis VI, Prof. DYP Sugiharto melakukan sosialisasi awal pada saat penyelenggaraan Rakor PTS Bidang Kesehatan yang berlangsung di Hotel Wahid (11/9).

            “Ini baru tahap sosialisasi. Setelah ini perlu dilakukan pemetakan keunggulan masing-masing program studi pada PTS.  Peta keunggulan masing-masing PTS  sebenarnya sudah dirintis oleh beberapa progdi PTS Kesehatan Jawa Tengah,  semisal untuk  progdi Keperawatan, ada yang akan mengembangkan untuk kebutuhan perawat ICU, kamar Bedah, UGD, kebutuhan perawat pada kepariwisataan, ada juga yang  akan mengembangkan  menjadi tenaga kerja professional di negara tertentu. Kompetisi tambahan dan unggulan seperti itu, dikelola secara kurikuler dengan program yang dapat dipertanggungjawabkan, baik konten maupun proses pembelajarannya. Kopertis VI mendukung salah satu arah kebijakan Dirjen Dikti, yaitu Diploma Suplemen, efektif menjadi sarana kompetisi yang sehat sekaligus strategis menjadi langkah nyata upaya pemenangan dalam kompetisi,” tegas Prof. DYP.  

            Terkait dengan penyelenggaraan Rakor, Ketua Aptikes, Edy Wuryanto, M.Kes mengatakan, isu utama 2013 setelah PTS  Kesehatan melalui organisasi Kesehatan yang lebih baik, kita akan masuk pada keunggulan masing-masing PT, karena memang masyarakat dan layanan kesehatan sekarang ini membutuhkan layanan khusus.  

            “Bidang keperawatan ada beberapa sektor yang sangat diminati, seperti kebutuhan perawat di ICU, kamar bedah, UGD. Nanti kita akan bersepakat PT mana yang memiliki keunggulan di bidang itu. Begitu pula masuk kewilayah herbal. Negara kita terkenal kekayaan alam, ternyata kebutuhan untuk itu juga sangat tinggi. PTS di Surakarta banyak yang mengarahkan keunggulan akademinya dibidang herbal.” tandas Edy

            Dia menambahkan, ada yang lebih spesifik, misalnya untuk dunia penerbangan, pramugari sekarang ini  meminati tenaga kesehatan karena banyaknya masalah kesehatan yang terjadi selama perjalanan. Bigitu pula untuk sektor pariwisata.  Firlandia sekarang membangun semacam kawasan wisata untuk lansia di Bali . Selama di Bali, mereka membutuhkan pendamping tenaga kesehatan. Sedangkan untuk kebidanan, bidan diarahkan menguasai kompetensi bidan community, berhubungan dengan masyarakat pedesaan untuk menangani masalah ibu hamil maupun persalinan.Adapun untuk bidang analis kesehatan berhubungan dengan dunia industri yang ditandai dengan banyaknya bermunculan klinik swasta yang tentu membutuhkan tenaga analis handal.  

            Koordinator Kopertis VI pada kesempatan tersebut menerima penghargaan dari Ketua Aptikes  perihal Kerjasama 44 PTS Kesehatan Jateng dengan 17 PT di Philippina.

Edy Wuryanto, M.Kes terpilih kembali secara aklamasi untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Aptikes periode 2013-2017.

COMMUNITY