Thursday, February 22, 2018
   
TEXT_SIZE

Generasi Muda Jangan Alergi Pada Perubahan

Ungaran -  Tantangan bangsa ini ke depan datang dari dalam dan luar. Dari dalam, menyangkut tata kelola dan kualitas sumber daya manusia. Tata kelola bangsa ini dapat dikatakan sudah carut marut, banyak produk-produk aturan yang tidak lagi berpihak pada masyarakat, cenderung berorientasi pada kepentingan capital (pemilik modal) yang pada akhirnya pelayanan menjadi terabaikan (problem manajerial). Sedangkan tantangan dari luar, kita menghadapi penjajahan gaya baru yang dijalankan negara corporet yang menguasai perekonomian.

            “Pada aspek ini sistem perlu dibenahi. Pemangku kepentingan tidak memiliki integritas dalam pengelolaan, serta lebih mengutamakan kepentingan modal daripada kepentingan rakyat.”

            Pernyataan ini disampaikan Abdullah ST.MT dosen UNDARIS sebagai salah satu narasumber dalam seminar nasional dengan tema “Youth Challenges and Empowerment.” yang diselenggarakan mahasiswa dari tiga perguruan tinggi di Kabupaten Semarang, masing-masing UNDARIS, Stikes Ngudi Waluyo, Stikom. Seminar yang berlangsung di kampus Stikes Ngudi Waluyo tersebut di buka Bupati Ungaran, H. Munjirin, baru-baru ini.

            Abdullah menjelaskan, yang harus ditanamkan pada generasi muda yakni memahami permasalahan, serta ada kesadaran untuk menyelesaikan persoalan.  Selanjutnya, kualitas pendidikan/pembelajaran harus diorientasikan pada kemandirian (kedaulatan bangsa). Jadi, pendidikan karakter atau wawasan kebangsaan harus mengarah ke sana.

            Langkah ke depan, lanjut Dia, penyadaran akan wawasan kebangsaan kepada generasi muda dengan memahamkan apa yang harus dilakukan untuk bangsa ini ke depan supaya lebih baik dengan mengenalkan sistem alternatif dalam menjawab tantangan.

            “Diharapkan dari anak-anak muda akan muncul sistem alternatif yang bisa memperbaiki bangsa ini dengan tidak harus memakai sistem yang lama. Jika dengan sistem yang lama tidak membawa kebaikan, kenapa kita alergi pada perubahan. Perubahan merupakan keniscayaan, dan anak muda tidak perlu alergi pada perubahan, selama perubahan tersebut membawa kepada nasib bangsa ini menjadi lebih baik,” tegas Abudullah.

             Ketua Stikes Ngudi Waluyo, Asaat Pitoyo mengatakan, terhadap materi yang disampaikan Abdullah semoga dapat membuka wawasan bagi mahasiswa sebagai penerus bangsa. Seminar ini sangat bagus dan nyata sekali kita rasakan.

            “Bangsa ini sekarang sedang sakit atau menderita karena tidak mengikuti amanah para pendiri tanah air yang sudah sejak awal menyatakan berdikari, anti kolonialisme dan anti kapitalisme. Namun kenyataannya semua sektor telah dijajah.  Kalau kita menjadi negara berdikari swakelola, tentu tidak akan ketergantungan pada bangsa lain.

            Selain Abullah ST.MT, narasumber lainnya yaitu, Abdul Wahid, M.Kes dosen Stikes Ngudi Waloyo.

  Menurut ketua Panitia, Muhammad Hisrom mahasiswa fakultas Hukum Undaris mengatakan, rencana untuk narasumber kami mengundang dari DPR-RI, namun beliau  berhalangan hadir melalui pemberitahuan mendadak. 

COMMUNITY