Sunday, February 18, 2018
   
TEXT_SIZE

Pola Asuh Yang Baik Hantar Remaja Matang Secara Identitas

Klaten – Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi orang dewasa dengan banyak sekali mengalami perubahan-perubahan. Melalui dinamika tersebut, yang utama adalah bagaimana mensimulasi pola asuh kepada remaja agar memiliki kemampuan optimal, terutama sekali terkait dengan identitas diri.  

            “Membangun bangsa untuk masa depan harusnya dimulai sejak perkawinan, bagaimana perihal hubungan suami/istri, kehamilah, bagaimana sikap pola asuh membesarkan anak, bagaimana kita menghantarkan anak pada dunia pendidikan (sekolah), serta sikap di sekolah yang dibangun. Jika hal ini kondusif, maka anak akan memiliki kekuatan mental, punya kemampuan mengambil keputusan, punya identitas diri, sehingga kita harapkan akan menjadi pemimpin masa depan. “

            Pernyataan ini disampaikan Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S,Kp. M.App.Sc selaku narasumber dalam acara seminar nasional yang bertajuk “Remaja Sehat Jiwa Menuju Generasi Handal Bangsa”,  diselenggarakan oleh Stikes Muhammadiyah Klaten, di kampus setempat baru-baru ini (19/4).

            Menurut Ibu yang berprofesi sebagai tenaga pengajar  di Universitas Indonesia  tersebut mengatakan,  ada lima  aspek penting  yang disampaikan sebagai materi diskusi, yakni terkait dengan Remaja dan Stimulasi, Harga diri remaja, Nafza pada remaja, Bullying pada remaja, Resiko bunuh diri pada remaja.

            Ia menegaskan, kata kunci dari materi yang saya sampaikan bagaimana terhadap pola asuh, baik dari keluarga, guru maupun lingkungan terhadap perkembangan anak, sehingga anak ini akan matang secara identitas, tidak akan jatuh dalam kondisi bullying, nafsa, maupun resiko bunuh diri.

            Terhadap suksesnya penyelenggaraan acara seminar nasional tersebut, Ketua Stikes Muhammadiyah Klaten, Sri Sat Titi Hamranani, S.Kep, M.Kes mengatakan, target kami untuk peserta sebenarnya hanya 350 orang. Akan tetapi, yang hadir saat ini lebih dari 500 orang dari berbagai unsur, seperti mahasiswa, siswa SMU/K, pegawai Rumah Sakit dan Puskesmas.

            “Mungkin karena tema maupun narasumber yang membawakan materi cukup menarik, menjadikan daya tarik tersendiri bagi kalangan luas untuk hadir.” paparnya.  

            Ditambahkan, seminar ini merupakan program yang harus dilaksanakan oleh program pendidikan profesi sebagai tugas akhir, jelas Ketua Stikes Muhammadiyah Klaten.  

            Selain Prof. Budi, narasumber lain Retno Yuli Hastuti, SKep.NS,M.Kep.Jiwa berasal dari dosen internal. Tampak pada gambar, Prof. Budi saat berinteraksi dengan peserta seminar.

COMMUNITY