Monday, February 26, 2018
   
TEXT_SIZE

Undip Terbaik Diajang Debat Bahasa Inggris Antar PT Se-Jateng 2014

Salatiga -  Setelah melalui beberapa  tahapan,  32 tim dari 32 perguruan tinggi (PT) peserta ajang Debat Bahasa Inggris antar mahasiswa tingkat wilayah Jateng 2014 yang diselenggarakan Kopertis VI di Hotel Grand Wahid (20-22/5), terpilihlah 8 tim untuk  mewakili Jateng di tingkat nasional.

UNDIP melalui Haekal Muhammad dan Fandi Achmad meraih urutan terdepan sebagai juara I, disusul kemudian dari UNS melalui Muhammad Satya Irfananda dan Juli Novianto Sunarno sebagai Juara II, UNNES melalui Girindra Putri Ardana Reswari dan Indri Giriyanti sebagai Juara III, UNSOED melalui Kurniawan Ydhianto dan Helen Pratiwi sebagai Juara IV, UKSW melalui Aldy Pratama dan Rian Isdianto Salean menempati urutan V, UDINUS melalui Elvira Zachriyanti Hasbullah  dan Jeffry Prawira Assaji menempati urutan VI, Universitas PGRI melalui Rachel Kartika Sari dan Utara Listiyani menempati urutan VII, UNIKA Soegijapranata  melalui Ong Cindy Corazon Cahyono dan Agatha Putri Algustie menempatai urutan VIII.

UKSW yang pada tahun lalu dinobatkan sebagai juara I, untuk saat ini harus puas menempati urutan ke-5.

Salah satu Juri undangan, Prof. Sukarno dari Universitas Tidar Magelang mengatakan, pada saat memasuki babak final, tema debat yang kami usung mengenai seputar Pesta Demokrasi yang subtansinya pemilih yang abstain dalam memilih.

Terpilihnya UNDIP sebagai juara I, lanjut Prof. Sukarno, tidak lain karena argumen yang disampaikan dianggap telah memenuhi kriteria terbaik oleh Juri.

Ketika hal tersebut dikonfirmasikan kepada Fandi Achmad salah satu peserta debat dari UNDIP mengenai argumen yang disampaikan, Dia menjelaskan,  kebebasan individu yang mereka bawa itu tidak rasional, karena yang bersangkutan tidak dapat mengkalkulasikan antara cost dan benevitnya. Orang yang tidak voting kepada pemerintah, seharusnya mereka adalah orang yang akan menerima kebijakan apapun dari pemerintah.

Selanjutnya Fandi menambahkan, yang menjadi masalah adalah ketika mereka tidak voting atau dalam pemahaman votingnya di kertas kosong. Kebanyakan orang yang voting di kertas kosong adalah pekerja-pekerja yang sibuk. Pada umumnya mereka masih menentang kebijakan pemerintah, padahal mereka tidak memilih pemerintah.

“Kita ambil contoh, lanjut Fandi, mereka seorang pekerja dan pemerintah menentukan berapa standar gaji pokok dari pekerja itu sendiri. Kebanyakan pekerja kalau tidak puas, mereka masih menyerang balik kepada kebijakan pemerintah melalui protes atau demo. Bagi kami tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai individu yang kurang rasional.”

Terhadap target di tingkat nasional nanti, Fandi berkeinginan memacu kemampuan untuk meraih tiga besar di final.

“Persiapan di tingkat nsional nanti kami akan memperdalam sesi latihan secara intensif dan memperluas wawasan terhadap isu-isu, khususnya mengenai permasalahan atau kasus-kasus internasional” tegas Fandi.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh perwakilan dari UNDIP tersebut, Prof. Sukarno mengatakan, untuk berkompetisi di tingkat nasional yang diperlukan adalah persiapan yang baik.

“Dengan siapapun kita berkompetisi, selama kita persiapkan dengan baik  akan memperoleh hasil yang baik pula” kata Prof. Sukarno.

Tampak gambar, peserta juara I sampai IV dengan bangga menunjukkan piala.

COMMUNITY