Monday, June 25, 2018
   
TEXT_SIZE

Menangkal Gerakan Radikal, UMK Gelar Diskusi

Kudus-kopertis6.or.id –  Memiliki dua dari sembilan wali tanah Jawa: Sunan Kudus dan Sunan Muria, serta telah nelahirkan tokoh-tokoh besar dan memiliki ratusan pesantren, namun itu tidak jaminan oknum masyarakatnya tidak terlibat dalam gerakan radikal dan terorisme.

Iptu Rahmawaty Tumulo, Kasat Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polres Kudus, mengemukakan hal itu dalam diskusi bertajuk ‘’Menangkal Gerakan Radikal di Kabupaten Kudus’’ yang diselenggarakan Humas Universitas Muria Kudus (UMK) di ruang seminar lantai IV Gedung Rektorat,  (3/9).

‘’Meski Kudus memiliki dua wali, banyak tokoh berpengaruh lahir di sini dan punya pengalaman toleransi yang sangat tinggi, namun beberapa kasus terorisme di tanah air, tokohnya, bukan anggota biasang, ada yang asli orang Kudus.’’

Karena itulah, menurut Rahma, masyarakat Kudus perlu mengetahui dan memahami mengenai gerakan radikalisme, termasuk fenomena gerakan Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS) yang telah sampai di Indonesia.

‘’Yang direkrut biasanya kelompok masyarakat ekonomi lemah dan dibuat tertarik dengan perjuangan atas nama agama. Jadi, Anda jangan punya pemikiran bahwa gerakan radikal tidak mungkin masuk Kudus,’’ ujarnya di depan peserta seminar yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, guru, dosen, dan wakil dari organisasi keagamaan.

Dr Suparnyo SH MS, Rektor UMK yang mengupas peran akademisi dalam menangkal gerakan radikal, mengutarakan, biasanya kelompok garis keras (kaum radikal) itu menganggap (menilai) seolah-olah kemuliaan mati syahid itu harus di medan perang.

‘’Ini harus diluruskan. Rasulullah Muhammad SAW itu wafatnya tidak di medan perang. Tetapi siapa yang berani mengatakan Nabi tidak mulia? Nabi justru mengingatkan bahwa ada jihad yang lebih besar, yakni jihad melawan hawa nafsu.’’

Mengenai peran yang bisa diambil akademisi dalam menangkal gerakan yang cenderung destruktif itu, di antaranya dengan mengedepankan dialog antaragama, sehingga pemahaman aan pluralitas itu semakin tertanam dalam sanubari masyarakat.

‘’Para akademisi juga bisa mengambil peran dengan melakukan transfer of knowledge pada anak didik, bahwa Islam itu ajaran (agama) yang penuh rahmah dan kasih sayang. Islam menghendaki kedamaian dan kehidupan yang harmonis di tengah-tengah masyarakat,’’ lanjutnya.  

Senada dengan Suparnyo, Ahmad Faiz LC MA, dosen Selcuk University, Konya, Turki, yang juga didapuk menjadi salah satu narasumber pada diskusi yang dipandu Zamhuri. ‘’Islam mengajarkan damai, mencipatkan keamanan dan kenyamanan. Menghormati dan memuliakan sesama adalah salah satu ciri Islam,’’ ungkapnya.

COMMUNITY

Materi Pelatihan