Wednesday, July 18, 2018
   
TEXT_SIZE

Mahasiswa Arsitektur Untag Semarang Catat Prestasi Internasional

Bendan Dhuwur-kopertis6.or.id – Meskipun minim persiapan, kepulangan mahasiswa  Fakultas Teknik Progdi Arsitektur Untag Semarang mampu meraih empat kemenangan dalam ajang festival mahasiswa arsitektur 2018 yang berlangsung di Ho Chi Minh Vietnam, baru-baru ini. Ajang ini tidak hanya diikuti dari perguruan tinggi di Vietnam, namun ada dari beberapa negara lain termasuk salah satunya dari Untag Semarang.

Empat kemenangan yang berhasil diraih tersebut yakni Giai Khuyen Khich (Merit Award) Sketsa A Juara II Group 2 (WisnuWidi Antoro, dan 5 mahasiswa se-tim), Biai Khuyen Khich (first Prize) Sketsa B Juara I Group III (Imam Nurohim dan 4 mahasiswa se-tim), Giai Khuyen Khich (First Prize) Proces Design Presentation Juara I Group I (Pramesti Putri Nugraheni dan 4 mahasiswa teman se-tim), Giai Khuyen Khich (Grand Prize) Best of the Best; Group III (Imam Nurohim dan teman se-tim), Kalmar dan Agus Tri Pambudi bersama tema se-tim juga masuk nominasi.

Ketua International Office and Mobility (IOM) yang juga Ketua Delegasi Untag Semarang, Eko Nursanty, MT ketika dihubungi disela-sela berlangsungnya acara seminar nasional bertemakan “Kebijakan Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Berdasarkan Buku Panduan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat edisi XII”  di kampus Bendan Dhuwur  siang tadi (28/5), mengatakan tidak adanya persiapan khusus dalam mengikuti lomba di Vietnam tersebut.

“Tidak ada persiapan khusus, akan tetapi seleksi internal tetap kami lakukan. Sebenarnya kami berkeinginan mengirimkan wakil lebih dari 5 orang, namun hal tersebut urung dikarenakan faktor kepengurusan Visa waktunya tidak menjangkau.” kata Eko Susanti menjelaskan.

Menurutnya, keberhasilan menyabet berbagai kategori diajang festival dua tahunan tersebut tidak diprediksikan sebelumnya. Akan tetapi, ternyata anak-anak telah mampu memberikan yang terbaik bagi Untag Semarang.

Pramesti Putri Nugraheni peraih juara I wakil Untag Semarang di Group I menyampaikan pengalamannya ketika selama mengikuti lomba. “Kami merasa kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan peserta lain maupun dengan panitia, karena tidak semua menguasai bahasa Inggris. Terpaksa kamipun tidak sungkan-sungkan menggunakan bahasa isarat dalam menyampaikan pesan.” ungkapnya

Putri menambahkan, selain terkait dengan masalah komunikasi, dirinya telah mendapatkan pengalaman berharga dapat mengenal budaya yang berbeda dari negara lain secara langsung.

“Saya merupakan satu-satunya peserta yang berhijab, sehingga bagi masyarakat  Vietnam adalah sesuatu yang tidak lazim dan kemana-manapun saya menjadi pusat perhatian.”  katanya mengenang

  

COMMUNITY

Materi Pelatihan