Thursday, July 10, 2014
   
Text Size

Dosen Teladan Untag Raih Doktor

SEMARANG- Dosen teladan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Sigit Irianto SH MH meraih gelar doktor di bidang Ilmu Hukum dalam ujian promosi doktor di Gedung Pascasarjana Undip, Rabu (16/3) sore.
Dalam disertasinya berjudul ’’Kedudukan Hukum Indonesia dalam Perjanjian-Perjanjian Prapendirian Perseroan Terbatas (PT) Penanaman Modal Asing di Sektor Industri Manufaktur di Indonesia’’, pria kelahiran Semarang 13 Januari 1962 itu, mencoba mengungkap aspek perjanjian dan pendirian PT yang berhubungan dengan penanaman modal asing di bidang manufaktur.

’’Aspek khusus yang perlu diperhatikan dalam pendirian PT yang berhubungan dengan penanaman modal asing di bidang manufaktur, yaitu harus dalam bentuk joint enterprise. Pendirian PT di Indonesia harus menggunakan hukum negara ini dan berkedudukan serta berakta notaris di sini,’’ ungkap Dosen Fakultas Hukum Untag ini.

Bidang usaha yang dapat dimasuki penanam modal asing adalah bidang usaha terbuka dengan persyaratan. Substansi yang diperjanjikan para pihak tetap mendasarkan pada ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam penanaman modal asing di Indonesia.

Dengan demikian, kata suami dari Widyarini Indriati Wardhani ini, dalam pendiriannya PT harus mengacu pada Undang-undang No 40 Tahun 2007 dan perundangan sebelumnya. Prinsipnya, meski terjadi perubahan di era globalisasi, penyusunan perjanjian dan pendirian PT harus disesuaikan dengan hukum Indonesia.

Karena itu, agar tidak melanggar pemerintah perlu turut berperan dalam transfer of knowledge pendirian PT. Langkah yang dapat diambil, yakni mensyaratkan, kerja sama alih teknologi, penggunaan tenaga kerja Indonesia lebih diutamakan, dan tidak mencari keuntungan bagi PT itu sendiri. ’’Intinya, perusahaan harus berkontribusi dan menguntungkan masyarakat selama berdiri serta beroperasional di Indonesia,’’ kata dosen teladan Kopertis Wilayah VI Jateng itu. (K3-37)

Pendidikan Karakter untuk Bangun Kearifan

SEMARANG- Pendidikan karakter dimaksudkan untuk membangun kualitas dan kearifan manusia, agar mampu hidup dalam zamannya. Sementara pengertian kurikulum dimaksudkan untuk menyiapkan manusia dalam era budaya dan teknologi pada zamannya.

’’Dengan demikian, memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pada tatanan pendidikan formal, nonformal, atau mungkin dalam tataran pendidikan informal adalah sebuah conditio sine quanon. Tetapi, dengan dimasukkannya pendidikan karakter ke dalam kurikulum, bukan berarti berakibat ada mata pelajaran baru sebagai konsekuensinya. Karena pendidikan karakter itu tidak diajarkan, tetapi dibiasakan,’’ kata Prof Dr Yoyo Mulyana MEd dalam seminar dan lokakarya nasional bertajuk Implementasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Berbasis Karakter Menuju Bangsa yang Mermarabat, baru-baru ini di Kampus Unnes.

Menurut Yoyo, pendidikan karakter berdasarkan silabus yang disusun harus dimasukkan dalam setiap mata pelajaran. ’’Peserta didik tak diajari nilai kebajikan, tetapi diajak untuk mengalami, merasakan, memiliki, melakukan tindakan, membiasakan bertindak, dan menjadi teladan dalam nilai karakter tertentu dan mata pelajaran yang diajarkan guru atau dosen,’’ paparnya.

Ketua tim pakar pilot project pendidikan karakter dari gagasan ke tindakan di yayasan Jati Diri Bangsa dan Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia Provinsi Banten itu menambahkan, dalam mewujudkan konsep tentang karakter dan jati diri bangsa secara mendalam dan merata, telah diyakini pendidikan merupakan lahan yang subur untuk menamnamkan kesadaran, sikap, dan tindakan yang sesuai nilai-nilai luhur dan kebajikan Bangsa Indonesia.

Prof Yoyo menilai, pendidikan karakter bukanlah suatu hal yang baru. Melalui perjalanan sejarah yang panjang dan terjadi di seluruh dunia, pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan penting, yaitu membantu peserta didik menjadi cerdas dan membantu mereka menjadi orang yang berkarakter.  (E1-37)

Akin St Paulus Peringkat 24 PT Terbaik

SEMARANG- Direktorat Akademik Direktorat Perguruan Tinggi (Dikti) mengumumkan hasil site verification terhadap sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Verifikasi terhadap Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi (SPM-PT) itu dilakukan untuk menjamin mutu aspek akademik maupun nonakademik perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Dari hasil yang diumumkan 2 Maret lalu itu, Dirjen Dikti menyatakan Akademi Kimia Industri (Akin) Santo Paulus Semarang termasuk 24 perguruan tinggi terbaik di Indonesia yang telah mengimplementasikan Sistem Penjamin Mutu.

’’Keberhasilan ini merupakan pengakuan dari pemerintah yang sangat membanggakan bagi kami sebagai upaya untuk terus berkiprah di masyarakat dalam menyiapkan tenaga kerja di bidang kimia,’’ kata Direktur Akin St Paulus Ir Sari Purnavita MT, di kampus Jalan Sriwijaya, Semarang.

Namun, diakuinya, pencapaian ini tidak lepas dari peran Akin sebagai lembaga pendidikan vokasi di bidang teknik kimia yang mencetak lulusan siap kerja dan fasih berwirausaha. Lulusan yang siap kerja didukung mata kuliah yang sarat muatan praktikum yang ditunjang enam laboratorium.
Prestasi itu, kata Sari, juga dibuktikan dengan lolosnya tujuh proposal Akin dalam kompetisi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional tahun 2011.

Kompetisi ini diselenggarakan tiap tahunnya melalui Direktorat Pengabdian pada Masyarakat (DP2M) Perguruan Tinggi Dikti.

’’Melalui PKM ini pemerintah mengharapkan mahasiswa mampu mengasah daya kreativitas untuk ikut memecahkan berbagai persoalan bangsa. Karena itu, kami juga sangat bangga bisa meloloskan tujuh proposal untuk tahun ini,’’ kata Sari.

Tujuh proposal yang lolos terdiri atas tiga PKM Kewirausahaan dan empat PKM Penelitian. Topik yang diangkat dalam kewirausahaan adalah bengkoang pandan hijau, brownis kukus bersubsidi bekatul, dan minuman siap saja herbal fiber.

Sedangkan untuk penelitian, mahasiswa Akin meneliti kecap jagung, regenerasi minyak goreng bekas, bioetanol limbah aren, dan pembuatan etil asetat dengan metode katalis elektrolisis. (D2-37)

Sumber  http://m.suaramerdeka.com

Bahasa Lainnya

COMMUNITY

Map

Newspaper

Berita Dikti